Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan, Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah salah satu penentu dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pasalnya, birokrasi akan menentukan arah bangsa ke depan dalam berbagai hal.

Oleh karena itu di birokrasi untuk jadi ASN itu dia mesti mengetahui apa yang harus dilakukan. Karena seorang ASN itu disumpah harus taat kepada peraturan perundang-undangan dan taat kepada konstitusi.

“Jadi ASN itu bekerja sebetulnya untuk melayani negara, sesuai peraturan perundangan dan melayani rakyat,” kata Zulkifli dalam diskusi bertajuk ‘Memperkuat Wawasan Kebangsaan di Kalangan ASN’ di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, dilansir dari Telusur.co.id, Rabu (1/12/21).

Menurut Zulkifli, selama 23 tahun reformasi, ASN kurang dibekali dengan wawasan kebangsaan seperti di era Orde Baru. Seharusnya, kata dia, contoh yang bagus jangan ditinggalkan, bahkan harusnya diperkuat.

“Oleh karena itu kami dulu mengambil inisiatif untuk meminta presiden membentuk kembali lembaga yang sekarang BPIP itu. Cuma dalam perjalanan, BPIP ini juga tidak sesuai dengan yang kita harapkan. BPIP harusnya  membuat konsep, bahan agar bisa melatih pelatih,” ungkap Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

“Misalnya ASN itu berapa juta, paling tidak 100 ribu dilatih untuk manggala. Sehingga manggala ini bisa melatih ASN-ASN yang berikutnya, sehingga ASN paham betul tugasnya untuk menjadi apa, menjaga merah putih, melayani negara, melayani rakyat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” sambungnya.

Namun, kata Zulkifli, saat ini jauh dari hal seperti itu, pekerjaan rumah kita banyak. Demokrasi yang harusnya mempersatukan, justru malah dijadikan alat untuk pecah belah, persaudaraan mulai rapuh.

Padahal demokrasi itu adalah alat agar kita memperkuat persatuan, dengan memperkuat persatuan itu, maka bisa kita fokus membangun, sehingga bisa menuju negara yang berdaulat, negara yang berdaulat itu ya bisa melahirkan kesetaraan, karena ada keadilan di situ. Kesetaraan dilahirkan oleh keadilan, keadilan dilahirkan oleh kedaulatan.

“Kita bersyukur punya Pancasila, tidak ada dunia yang punya seperti kita, pegangan, landasan atau pondasi yang sangat kokoh itu. Tetapi dalam perjalanannya ini Pancasila, wawasan kebangsaan, hanya menjadi slogan, kadang-kadang menjadi sarana untuk memecah-belah. Padahal jelas Pancasila itu sarana untuk mempersatukan, bukan jadi alat untuk memecah-belah, apalagi mengatakan aku Pancasila, kalian bukan Pancasila, itu berbahaya sekali,” pungkasnya.