Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan menyoroti polemik Permendikbud 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Permendikbud 30 itu mendapat penolakan dari ormas seperti Muhammadiyah, Aisyiyah dan MUI. Mereka menyoal beberapa substansi terutama frasa atas tanpa persetujuan korban dalam mendefinisikan kekerasan seksual.

“Saya yakin semua pihak ingin yang terbaik. Semua sangat setuju pada upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi,” kata pria yang akrab disapa Zulhas itu saat melakukan safari politik ke Serang, Banten, dilansir dari Kumparan.com, Senin (15/11/2021).

“Tapi saya kira kekhawatiran ormas dan tokoh-tokoh Islam harus didengarkan. Jangan sampai ada substansi yang multitafsir, apalagi itu dianggap bertentangan dengan nilai agama dan budaya luhur bangsa,” tambah dia.

Wakil Ketua MPR itu menjelaskan, seharusnya Permendikbud 30 bersifat terbuka untuk direvisi. Ia sudah meminta seluruh anggota PAN di Senayan menyuarakan masalah ini.

“Saya akan minta legislator PAN untuk ikut bersuara, kami sangat concern terhadap hal ini,” tutur dia.

“Kita memperjuangkan nilai tertentu. Tapi ini demokrasi, jumlah kita harus banyak. Kalau banyak kader PAN jadi anggota dewan, kita tidak perjuangkan agar tidak kecolongan kebijakan disusupi ideologi yang berbeda dengan prinsip Pancasila dan UUD 1945,” lanjut dia.

Lebih lanjut, dalam kunjungan di Serang, Zulhas mengawali kunjungannya dengan mengunjungi Perguruan Silat Bandarong. Ia disambut pagelaran silat khas Banten.

“Silat ini budaya bangsa yang sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan. Saya dorong agar silat dan tarian budaya dilakukan di setiap pembukaan acara resmi. Ini bagus untuk pemberdayaan anak muda dan menghidupkan UMKM,” kata Zulhas.

Zulhas mendorong agar acara PAN di daerah dimeriahkan oleh tarian atau pencak silat. Hal ini sebagaimana ia dorong sebelumnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Jangan sampai kita lebih terpengaruh budaya luar, Barat atau Timur, mana pun, tapi lupa akar kebudayaan kita yang menjunjung tinggi nilai moral dan ketuhanan,” tutup dia.