Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PAN, Prof. Zainuddin Maliki menyoroti seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN), khususnya seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK Guru.

Prof. Zainuddin Maliki menegaskan akan berjuang bersama para guru honorer agar bisa diangkat menjadi ASN.

“Sejak awal saya sudah menegaskan, saya akan berdiri bersama-sama guru honorer,” tegas Zainuddin Maliki saat menerima aspirasi sejumlah organisasi guru di Komisi X, dilansir dari Pojoksatu.id, Senin (29/8/2022).

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya ini mengyinggung program Menyeri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ritek), Nadiem Makarim pada 2021 lalu.

“Menteri Pendidikan mengatakan tahun 2021 akan mengangkat 1 juta guru honorer menjadi ASN. Nah saya ikut optimis karena waktu itu faktanya memang masih kekurangan guru 1 juta lebih,” ucap Zainuddin.

Menurut Zainuddin, kalau saja program 1 juta guru ASN itu bisa direalisasikan, maka permasalahan guru honorer dan masalah kekuarangan guru sudah tidak ada masalah.

Tapi faktanya kemudian, seleksi PPPK 2021, baik tahap 1 maupun tahap 2 hanya bisa meluluskan 293.000 guru lulus passing grade (PG) yang mendapatkan formasi.

Sementara 193.000 guru lulus PG pada seleksi PPPK 2021 hingga kini belum mendapatkan formasi.

“Saya memandang ini lebih pada persoalan teknis, yang bila ada pemihakan, saya kira tidak akan ada masalah,” jelas Zainuddin.

Dijelaskan Zainuddin, salah satu kunci untuk mengangkat guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi adalah afirmasi.

Afirmasi adalah kebijakan khusus penambahan nilai bagi peserta seleksi ASN.

“Ada pemikiran-pemikiran, pertimbangan manusiawi. Jadi bukan hanya menggunakan sistem. Kalau mengandalkan sistem, maka afirmasi itu tidak ada. Kita desak akhirnya ada afirmasi,” kata Zainuddin.

Lebih jauh Zainuddin menjelaskan, kalau sistem passing grade dikawinkan dengan afirmasi, hasilnya akan melahirkan pengangkatan honorer menjadi ASN secara manusiawi, sepanjang dijalankan sesuai rukun dan syaratnya.

“Tapi faktanya kemudian, lulus passing grade, ada afirmasi, tetapi ternyata ada afirmanya tidak dimasukkan,” katanya.

Akibatnya, ada guru honorer yang seharusnya lulus PPPK justru gagal, karena afirmasi atau penambahan nilainya tidak dimasukkan dan diakumulasi dengan nilai hasil tes.

Setelah tahu afirmasinya tidak dimasukkan, guru honorer itu menangis. Padahal, sebelumnya dia sudah senang karena yakin akan lulus.

Dia sudah menghitung jika hasil tes kompetensinya ditambah dengan afirmasi, maka dia pasti memenuhi nilai ambang batas atau lulus PG.

“Semula tangisan kebahagiaan, air mata bahagia, berubah menjadi air mata kesedihan,” kata Zainuddin.

Hal serupa juga dialami guru honorer disalip murid sendiri. Ia mengadukan nasibnya ke Komisi X DPR.

Guru honorer yang disalip muridnya sendiri itu merasa mendapat beban mental karena muridnya sudah lulus PPPK, sementara dia sendiri gagal.

“Sama dengan ibu tadi itu. Hadir di Komisi X dengan air mata kesedihan. Kami ingin berjuang aga air mata kesedihan ibu nanti berubah menjadi air mata kebahagiaan,” tandas Zainuddin.

Diketahui seleksi CASN 2022 rencananya dibuka pada minggu ketiga September. Naskah soal kompetensi seleksi PPPK 2022 telah diserahkan ke Panselnas, Senin 29 Agustus.