Anggota DPR RI Fraksi PAN, Achmad Hafisz Thohir, mengatakan berbagai ketimpangan baik secara ekonomi, politik, sosial dan lainnya masih kerap terjadi meski Indonesia kini menginjak usia ke 76 tahun.

“Rezim silih berganti, namun nasib bangsa negeri ini tak henti-hentinya di dera berbagai persoalan,” kata Hafisz, dilansir dari Teropongsenayan.com, Sabtu (14/08/2021).

Tentunya, Hafisz menambahkan, berbagai persoalan itu terjadi karena masih lemahnya keberpihakan regulasi terhadap kepentingan rakyat.

“Contoh di sektor Sumber Daya Alam (SDA) misalnya, bagaimana rakyat di negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ini rakyat hanya jadi penonton. Bangsa lain yang menikmati kue-kue pembangunannya. Pertanyaannya Merdekakah kita?,” lirih Waketum PAN itu.

Padahal, kata dia, para founding father bangsa ini mendesign negeri ini agar merdeka, berdaulat dan sejahtera sebagaimana amanat Mukaddimah UUD 1945.

“Negara kita memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah dan menurut data Indonesia Mining Asosiation, Indonesia meraih peringkat ke-6 di dunia dengan kategori Negara yang kaya akan sumber daya tambang,” jelasnya.

“Mulai dari emas, nikel, batu bara, minyak dan gas alam yang sebenarnya bisa menunjang perekonomian masyarakat Indonesia jika dikelola dengan baik oleh masyarakat Indonesia itu sendiri,” sambungnya.

Akan tetapi, menurutnya, hampir sebagian besar perusahaan tambang di Indonesia di kontrol oleh Negara asing, sebab adanya kesenjangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, Teknologi dan pendanaan untuk pemanfaatan SDA tersebut sehingga harus memanfatkan sumber dari luar negeri.

“Rakyat baru bisa menjadi buruh diantara korporasi asing. Kita lihat kepemilikan sektor-sektor strategis di bidang SDA misalnya, hampir 50% masih dikuasai asing. Rakyat harus diberi “senjata” agar dapat bertarung dengan asing karena tanpa perisai (keberpihakan regulasi) menghadapi korporasi asing maka rakyat hanya menjadi objek buruh saja,” tegasnya lagi.