Seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 secara signifikan, akhir-akhir ini kita kerap dirundung berita duka. Kita dibuat cemas sekaligus sedih. Cemas karena wabah ini makin ganas, menyebar lebih luas dan cepat. Sedih karena pandemi ini mulai merenggut orang-orang terdekat kita. Keluarga besar Partai Amanat Nasional (PAN) telah kehilangan tiga tokoh terbaiknya selama pandemi ini.

Di awal tahun 2021, salah satu kader terbaik PAN, anggota komisi VIII DPR Ali Taher Parasong, meninggal dunia akibat Covid-19. Rasanya belum usai kesedihan kami karena kehilangan salah satu putra terbaik NTT itu; almarhum adalah tokoh Muhammadiyah sekaligus pejuang Islam. Bulan Juni 2021 ini kami mendapatkan dua kabar duka sekaligus, dua orang pendiri PAN, Mohammad Assegaf dan Mohammad Siddik, juga meninggal dunia karena Covid-19.

Tanggal 22 Juni 2021, pengacara senior Mohammad Assegaf meninggal dunia di Jakarta. Pak Assegaf, begitu kami yang lebih muda biasa memanggilnya, merupakan salah satu pendiri PAN. Bersama para tokoh reformasi yang lain, Pak Assegaf ikut merumuskan pendirian partai ini dan mendeklarasikannya. Sebelum akhirnya mengundurkan diri sebagai penasihat partai karena ingin fokus menekuni profesinya sebagai pengacara.

Kemarin, 29 Juni 2021, kabar lelayu datang lagi menyentakkan kami. Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat Periode 2015-2020 Dr. Mohammad Siddik, MA, juga dikabarkan wafat karena Covid-19. Selain sebagai pendiri PAN, Pak Siddik sangat dekat dengan kami untuk selalu memberikan nasihat-nasihatnya. Saya pribadi kerap bertemu beliau, minimal dua bulan sekali, untuk berdiskusi dan meminta pandangan tentang berbagai hal. Baru saja minggu lalu kami bertemu.

Bagi saya, Pak Siddik adalah sahabat, teman seperjuangan, pejuang Islam yang sangat gigih memperjuangkan nilai-nilai Islam demi tegaknya ‘izzul Islam wal muslimin’. Saya bersaksi bahwa seluruh hidup beliau didedikasikan untuk Islam dan kebaikan umat. Dalam setiap diskusi kami, Pak Siddik jarang sekali membicarakan masalah pribadi, fokusnya selalu mengenai umat dan bangsa ini.

Memulai karier di Islamic Development Bank, Pak Siddik juga merupakan pendiri World Assembly of Moslem Youth (WAMY) di Riyadh. Beliau pernah juga bertugas di PBB/UNICEF dan tercatat sudah menjelajahi lebih dari 90 negara. Kepada kader-kader muda, Pak Siddik selalu bersemangat menceritakan pengalaman-pengalamannya yang luar biasa, menginspirasi kami semua.

Di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), saya dan Pak Siddik berjuang bersama lebih dari 20 tahun untuk menyemarakkan dakwah Islam. Pada saatnya beliau menjadi ketua umum DDII Pusat, kemudian dilanjutkan menjadi Dewan Pembina di organisasi tersebut. Sampai akhir hayatnya, Pak Siddik masih berjuang untuk mengumpulkan dana dalam rangka mendirikan tiang pancang kampus yang akan dibangun DDII.

Baru saja minggu lalu saya bertemu beliau untuk berdiskusi mengenai hal tersebut. Saya katakan kepada almarhum, “Kalau bisa saya diberi coret-coretannya, semacam proposal, agar bisa mengajak teman-teman lain untuk ikut menyumbang.” Saya berjanji akan ikut membantu perjuangan beliau. Pak Siddik menyanggupi permintaan itu dan menyampaikan akan bertemu saya lagi dengan dokumen yang lebih lengkap.

Rasanya sulit membayangkan hari ini beliau telah tiada. Bahkan dalam pertemuan terakhir itu Pak Siddik masih sempat menyampaikan satu permintaan khusus, membuat saya heran tetapi sekaligus sulit menolaknya. Katanya, “Pak Zul, kita sudah berpuluh tahun berjuang bersama, tapi jarang foto berdua. Hari ini kita foto berdua.” Malam itu kami pun berfoto. Rupanya itu yang terakhir kali.

Bagi keluarga besar PAN, Pak Siddik sangat berjasa, sudah kami anggap orangtua sendiri. Nasihat-nasihatnya selalu penting buat kami. Ilmu dan pengalamannya begitu berharga, memberi inspirasi untuk kader-kader muda. Tentu kami sangat berduka atas berita kepergian beliau. Seluruh keluarga besar PAN menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga besar beliau serta keluarga besar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Kami bersaksi beliau seorang mujahid dakwah. Kami berdoa semoga beliau meninggal dalam keadaan syahid.

Entah sampai kapan wabah ini akan berlangsung, entah berapa kabar sedih lagi akan kita terima. Yang jelas, kita harus berjuang melawan pandemi ini bersama-sama. Tak boleh abai, tak boleh longgar. Kita bantu pemerintah agar bisa menangani pandemi ini secara lebih baik lagi dengan memperbanyak tes, melakukan tracking and tracing, menerapkan kebijakan pengetatan protokol kesehatan, menjalankan PPKM, hingga merealisasikan vaksinasi secara masif dan sistematis.

Tugas masyarakat adalah mengikuti anjuran-anjuran yang ada, sambil terus mengetatkan protokol kesehatan untuk menjaga diri dan keluarga. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan. Mulai hari ini kita tak boleh menyepelekannya lagi, apalagi melanggarnya. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh, bisa jadi kelak adalah teman atau keluarga dekat kita sendiri.

Kabar duka yang datang kepada keluarga besar Partai Amanat Nasional yang saya ceritakan dalam tulisan ini, juga kepada ribuan yang lain yang setiap hari kita baca, lihat, atau dengar beritanya, mulai dari pejabat, selebritis, hingga petugas kesehatan, semoga menjadikan pengingat untuk kita lebih waspada serta mawas diri. Pandemi ini sesuatu yang luar biasa, tak bisa kita anggap sepele belaka.

Akhirnya, saya berdoa, semoga kita semua dan keluarga dilindungi dan dijauhkan dari virus ini. Semoga yang sakit segera disembuhkan dan dipulihkan, yang berduka diberi ketabahan dan mendapatkan kebahagiaan lain sebagai gantinya. Semoga Indonesia dan dunia segera melewati masa pandemi yang berat ini.

Zulkifli Hasan Ketua Umum Partai Amanat Nasional