Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PAN, Intan Fauzi menyoroti makin naiknya harga daging sapi. Menurut Intan, hal tersebut tidak perlu terjadi apabila produksi daging sapi dapat memenuhi kebutuhan nasional.

“Harga daging sapi terus naik, bahkan di tingkat eceran harga daging segar dijual kisaran harga Rp 140.000, sedangkan harga acuan Rp 105.000. Hal ini tidak perlu terjadi jika produksi daging sapi lokal dapat memenuhi kebutuhan nasional, sehingga tidak bergantung kepada importasi sapi bakalan dari Australia,” kata Intan, dilansir dari Beritasatu.com, Jumat (4/3/2022).

Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VI meliputi Kota Bekasi dan Kota Depok ini mengatakan salah satu alasan penyebab kenaikan harga daging, karena melonjaknya harga sapi bakalan impor sejak November 2021. “Harga sulit dikendalikan, karena bergantung pada harga internasional dan kurs rupiah,” ujar Intan.

Intan menyatakan akar permasalahan di hulu harus diselesaikan, sehingga rakyat tidak terbebani. Selama ini, menurutnya, Indonesia hanya melakukan impor bakalan anak sapi untuk penggemukan dan daging beku. Menurut Intan, perlu di lakukan kembali regulasi impor, yaitu satu induk sapi untuk tiap lima sapi bakalan.

Dengan begitu, Intan menyatakan populasi sapi di dalam negeri akan bertambah. Nantinya, Indonesia tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada daging sapi impor, apalagi tunggal dari Australia. Intan menuturkan Indonesia harus melakukan percepatan pengadaan daging beku. Kemudian, mulai membuka opsi dengan membuka keran impor dari negara selain Australia.

Tentu, kata Intan, dengan syarat sapi bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) harus tetap menjadi standar. Selain itu, BUMN pangan yang di dalamnya ada PT Berdikari dengan fokus pada peternakan sapi dan ayam, harus bangkit dan membangun kredibilitas dengan negara pengekspor. Tujuannya untuk dapat menambah pasokan secara signifikan dan fungsi sebagai penyeimbang harga dapat berjalan. “Jangan kalah dengan swasta,” tegas ketua umum Perempuan Amanat Nasional ini.

Intan mengatakan penyelesaian segera perlu dilakukan untuk menjaga pasokan antara lain meminta para usaha penggemukan hewan, rumah potong hewan (RPH) dan perusahaan importir agar sapi siap potong segera direalisasikan.

“Juga data realisasi impor dan menjual dengan harga terjangkau. Memenuhi pasokan daging di Pulau Jawa dari sentra produksi sapi. Hal ini penting guna menjaga ketersediaan pasokan daging dan stabilisasi harga jelang Ramadan dan Lebaran 2022 yang kebutuhannya meningkat,” ucapnya.

Intan berharap agar pemerintah melalui Badan Pangan Nasional, segera bekerja keras untuk dapat menjalankan fungsinya sesuai amanah Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2021, yaitu untuk kebijakan ketersediaan pangan, stabilisasi pasokan dan harga pangan. “Sembilan jenis pangan yang menjadi tugas Badan Pangan Nasional, termasuk di dalamnya adalah daging,” ujar Intan.

Intan mengatakan para pemangku kepentingan dalam hal ini Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan juga Badan Pangan Nasional, Perum Bulog serta BUMN ID Food harus bekerja sungguh-sungguh dan cepat. Hal ini penting untuk mengurai permasalahan ketergantungan impor yang terus berulang membebani rakyat.

“Kenaikan harga daging sapi membuat resah selain penjual daging juga digunakan untuk produksi para UMKM antara lain para pedagang bakso, industri rumah tangga, dan sebagainya yang mengais rejeki dengan margin kecil, sehingga lonjakan harga sangat mempengaruhi mata pencaharian mereka yang berusaha bangkit dan berharap ada pemulihan ekonomi,” demikian Intan Fauzi.