Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan berbicara tentang gagasan Islam tengah. Hal ini disebut untuk mempertegas jati diri PAN yang disebut tidak berubah sejak awal berdiri.

“PAN hanya menegaskan kembali jati diri identitas sifat dan platform PAN sejak awal pendirian sampai sekarang tidak pernah berubah,” ujar Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi, dalam program Adu Perspektif, Rabu (2/1/2022).

Viva juga membantah ajakan islam tengah ini dikarenakan partai koalisi saat ini mayoritas nasionalis. Menurutnya, hal ini menegaskan ideologi PAN yaitu nasionalis religius.

“Ketua Umum menegaskan islam tengah, sebagai islam moderat, modern, inklusif itu hanya merupakan bagian kecil untuk menterjemahkan platform dalam kondisi kekinian, jadi bukan karena partai koalisinya kaum nasionalis bukan,” kata Viva.

“Ideologi PAN itu ya dasarnya pancasila, asasnya moral politik berdasarkan agama yang membawa rahmat bagi sebagian alam, kalau disederhanakan, PAN itu partai nasionalis religius yang sejak awal sampai sekarang tidak berubah,” tuturnya.

Viva mengatakan, pada saat pilpres sebelumnya di bawah pimpinan Amien Rais PAN memiliki pandangan yang berbeda sehingga memilih untuk keluar dari koalisi untuk menghormati pilihan politik.

“Kalau soal pilpres, ketika dikatakan bahwa PAN khianat itu perlu dikoreksi. PAN itu tidak khianat, PAN itu justru menghargai dan menghormati fatsun martabat politik. Karena waktu itu PAN berbeda pilihan dengan partai koalisi sehingga pasangan calon presiden itu berbeda. Karena ada perbedaan maka PAN pamit undur dari koalisi, jadi bukan karena khianat tapi menjaga fatsun politik,” kata Viva.

Namun Viva menilai perbedaan dalam politik di masa pilpres tersebut telah usai dan tidak lagi relevan untuk dihidupkan. Menurutnya, saat ini perlu adanya lembaran baru untuk menghadapi Pilpres 2024.

“Pilpres sudah selesai, pasangan calon PAN yang didukung itu, sekarang sudah menjadi pembantu presiden, kalau sudah jadi pembantu presiden, jadi menteri. Itu relevansi antara kampret dan cebong sudah tidak relevan lagi, kenapa lagi dihidupkan, sudah lah, pilpres itu sudah tutup buku,” kata Viva.

“Kita akan buka lembaran baru lagi di 2024 dengan koalisi yang baru, tetapi wacana yang dikembangkan itu harus wacana yang konstruktif yang bisa memajukan peradaban Indonesia,” tuturnya.