Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PAN, Nasril Bahar, menilai data kebutuhan nasional gula rafinasi antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) setiap tahun tidak sinkron.

Kelemahan akurasi data inilah yang menyebabkan sering terjadi rembesan Gula Kristal Rafinasi (GKR) untuk industri ke Gula Kristal Putih (GKP) untuk konsumsi masyarakat sehari-hari.

“Hampir rata-rata (data) tidak sinkron, sehingga setiap tahunnya terjadi rembesan. kelemahan dalam pengawasan, kelemahan dalam rekomendasi ini mengakibatkan petani tebu yang dirugikan,” jelas Nasril Bahar, dilansir dari Dobrak.co, Jumat (15/10/2021).

Akurasi data tersebut dapat terkait berapa sesungguhnya kapasitas terpasang, idle capacity, kebutuhan industri nasional, serta terkait angka yang harus direkomendasikan untuk tujuan impor raw sugar kebutuhan gula rafinasi.

“Nah data-data inilah yang sesungguhnya siluman bagi kita,” tegas Nasril.

Nasril juga menjelaskan, kebutuhan nasional untuk GKR hanya 3,5 juta ton per tahun. Namun, ia menduga rekomendasi yang dikeluarkan untuk importasi GKR tersebut melebihi 3,5 juta ton. Kondisi ini yang mengakibatkan terjadi rembesan, sehingga mengganggu produktivitas petani tebu lokal yang menghasilkan GKP, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sekitarnya.

“Ini yang saya sayangkan kalau Kemenperin dan Kemendag tidak hati-hati mengeluarkan rekomendasi atau kuota untuk kebutuhan gula rafinasi untuk industri,” urai Nasril.