Kasus penggunaan antigen bekas di Bandara Kualanamu diluar batas toleransi dan mengundang kemarahan publik. PT Kimia Farma melalui anak usahanya PT Kimia Farma Diagnostika harus bertanggungjawab secara penuh. Tidak sebatas pada oknum saja.

“Ini masalah besar, dalam situasi publik yang penuh kegamangan akibat pandemi, tindakan mencari untung dengan memanfaatkan situasi tersebut adalah tindakan kriminal dan tak bermoral” ujar Abdul Hakim Bafagih, Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PAN ini.

Apa yang dilakukan oleh oknum petugas Rapid Antigen Bandara Kualanamu tersebut merupakan tindakan yang disengaja serta dilakukan lebih dari satu orang. Artinya ada upaya kerjasama yang melibatkan lebih dari satu orang atau pihak. Ini berarti ada yang salah dalam manajemen PT Kimia Farma Diagnostika, terutama dari sisi monitoring atau pengawasan internalnya.

“Oknum harus tetap diproses baik dalam konteks perbuatan kriminal atau pun pelanggaran SOP perusahaan. Akan tetapi, yang lebih penting adalah perombakan manajemen. Kasus ini telah membuktikan bahwa manajemen PT Kimia Farma Diagnostika tidak bekerja secara profesional dan bertanggungjawab,” tegas Abdul Hakim.

Selain PT. Kimia Farma Diagnostika, PT Angkasa Pura juga harus bertanggungjawab karena pengadaan Rapid Antigen tersebut merupakan bentuk kerjasama antara PT Kimia Farma Diagnostika dengan PT Angkasa Pura. Sebaiknya kerjasama tersebut dievaluasi karena tidak menutup kemungkinan kasus ini bisa terjadi di bandara lain.

Evaluasi dan perombakan manajemen menjadi sangat penting karena kasus tersebut telah merusak brand image BUMN dalam industri jasa pelayanan publik di bidang kesehatan. PT Kimia Farma dan PT angkasa pura telah menjadi elemen penting dalam upaya mengurangi dampak pandemi covid-19. Selama ini mobilitas masyarakat dan penyebaran virusnya dapat terkendali dengan adanya proses skrining di beberapa gerbang pintu masuk sebuah daerah yaitu dalam hal ini bandara. Dan upaya mengembalikan nama baik kedua BUMN inj harus cepat dilakukan mengingat perjalanan menghadapi pandemi ini masih panjang.[]