Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional (DPD PAN) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Marselinus Jeramun diundang utusan khusus Kedubes AS untuk Indonesia, Chris Kenedy untuk membahas sejumlah masalah yang ada di wilayah bumi Komodo ini, terutama Kota super premium, Labuan Bajo.

Pertemuan digelar secara tertutup di sebuah restoran di Kota Labuan Bajo, beberapa waktu lalu.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua Fraksi Air DPRD Mabar, Innocentius Peni.

Dijumpai usai pertemuan, Marsel Wakil Ketua II DPRD Mabar,menjelaskan bahwa kedatangan utusan Kedubes AS tersebut dalam rangka kunjungan kerja.
Salah satu agendanya adalah bertemu atau berdiskusi dengannya untuk membahas sejumlah isu yang menjadi tanggung jawabnya sebagai jembatan aspirasi masyarakat.

“Saya sebagai salah satu bagian dari pemerintah lokal, diajak untuk berdiskusi dalam mendesain program-program yang ada disini,” katanya.

Marsel mengatakan, pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, masalah yang sangat serius saat ini adalah ketersediaan air bersih.

“Masalah kita disini adalah masalah air minum bersih. Harapan saya mudah-mudahan ada teknologi yang bisa membantu masyarakat di pulau yang kesulitan air dan juga masyarakat di pegunungan yang posisi airnya lebih rendah dari permukiman,” paparnya.

Untuk itu, Marsel meminta kepada utusan Kedubes AS itu agar membantu menjawab persoalan ketersediaan air bersih di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.

“Saya meminta supaya negara Amerika itu berbuat sesuatu di wilayah ini. Karena wajah Amerika sudah nampak dalam bentuk hotel-hotel yang berafiliasi atau pusatnya ada di Amerika,” tutur Marsel.

Permintaan tersebut kata Marsel, direspon baik oleh Chris Kenedy dan menyetujuinya.
Sehingga dalam beberapa waktu kedepan tinggal menunggu implementasi hasil pembahasan dalam diskusi tersebut.
Lebih lanjut, Ketua DPD PAN Mabar itu menyoroti dominasi pusat dalam penataan kota Labuan Bajo.

Secara tidak langsung menunjukkan seolah-olah pemerintah daerah tidak punya kapasitas untuk menata dan membangun wilayahnya.

Dalam beberapa kesempatan kata Marsel, proyek milik pemerintah daerah untuk menata kota, dibongkar oleh pemerintah pusat.

Hal itu terjadi karena tidak memiliki konsep dan perencanaan yang matang.
Bukan hanya itu, pengadaan bahan-bahan juga masih didatangkan dari luar padahal bisa memanfaatkan potensi yang ada.

“Bahan-bahan sebenarnya ada di sini tapi justru tidak dipakai dan malah mendatangkan dari luar. Andaikata ada perencanaan yang lebih baik, kita tentunya harus maksimalkan potensi-potensi yang ada di sini,” katanya.

Menurut Marsel, kondisi yang terjadi saat ini masyarakat setempat belum dapat menikmati dampak positif dari pariwisata super premium.

“Pertanyaan untuk siapa ini pariwisata super premium adalah hal yang sangat serius. Apakah hanya untuk masyarakat luar atau masyarakat lokal juga bisa menikmatinya,” terang Marsel.

“Jangan sampai aset-aset wisatanya super premium, tetapi masyarakatnya super mi,” tambahnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu, Marsel turut mempromosikan minuman khas lokal kepada Chris Kenedy yakni sopi.
Baginya, sopi merupakan potensi yang perlu dikembangkan.

“Ketika kami ditawari bir dan minuman luar, tapi saya justru mengajak Chris ini untuk mencoba minuman lokal yaitu sopi. Dan menurut Chris sopi ini enak, seperti soju di Korea Selatan. Sehingga saya menyayangkan ketika kita dominan mengkonsumsi minuman dari luar,” tandasnya.