Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Prof. Zainuddin Maliki, mengkritik keras adanya survei lingkungan belajar ke sekolah oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Hal ini, menurut Zainuddin Maliki, survei tersebut bernada politis dan berpotensi membangkitkan sentimen mayoritas minoritas suku, ras dan agama (SARA).

“Seharusnya survei lingkungan belajar didasarkan kepada kepentingan untuk memetakan latar belakang tempat berlangsungnya pendidikan. Jauh dari kepentingan politik, sentimen mayoritas dan minoritas dari sisi suku, ras maupun agama,” ujar Zainuddin Maliki, dilansir dari PWMU.co, Selasa (27/7/2021).

Pasalnya, dalam survei terdapat sejumlah pernyataan tendensius seperti “Lebih baik kalau ketua OSIS berasal dari agama yang mayoritas di sekolah” atau “Cara berpakaian sesuai aturan agama kelompok mayoritas seharusnya diwajibkan bagi warga sekolah.”

Kemudian terdapat juga pertanyaan “Orang dari kelompok mayoritas agama lebih berhak menjadi pemimpin politik seperti bupati/walikota, gubernur dan Presiden.”

Kemudian, “Guru dari etnis minoritas harus merasa bersyukur jika bisa mengajar di sekolah negeri.”

Zainuddin Maliki juga mengungkapkan, pada kuisener survei ini pun mengandaikan etnis mayoritas sebagai sumber masalah, sehingga muncul pernyataan “Dalam penerimaan siswa baru saya lebih memilih calon siswa yang memiliki latar belakang suku atau etnis mayoritas.”

“Dari sejumlah pernyataan tersebut jelas sekali mengandaikan etnisitas dan agama mayoritas dinilai sebagai sumber masalah,” ujar Penasihat Dewan Pendidikan Jawa Timur itu.

Dia menegaskan, salah besar kalau mencoba mengarahkan opini bahwa masalah di negeri ini hanya berasal dari mayoritas dan tidak ada yang berasal dari minoritas.

“Oligarki pemburu rente yang bermoral hazard itu minoritas. Hanya segelintir saja, tetapi mereka sumber masalah besar di negeri ini,” ujarnya.

Oleh karena berpotensi membangkitkan sentimen mayoritas minoritas atas dasar SARA maka ia meminta Mendikbudristek menarik kuisener itu.

“(Kalau mau dilanjutkan) arahkan kepada upaya menggali informasi mengenai kualitas proses pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran secara komperhensif. Bukan hanya menggali input, proses dan output, tetapi juga konteks, outcome, benefit, dan impact pembelajaran,” ungkap mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu.

Zainuddn Maliki menegaskan, sudah banyak riset yang menyebutkan tripusat lingkungan belajar, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang berpengaruh signifikan terhadap proses pembelajaran secara bervariasi.

“Kondisi tripusat pendidikan itulah yang seharusnya digali melalui survei lingkungan belajar ini. Buang jauh pikiran yang mengancam kesatuan dan persatuan yang apalagi bangsa ini tengah membutuhkan kebersamaan menghadapi darurat kesehatan karena krisis pandemi Covid-19 yang masih terus berlanjut sekarang ini,” ujarnya.