Setelah 15 tahun menjadi polemik berkepanjangan, masalah pembangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin akhirnya berhasil diselesaikan Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Bagi Bima, ikhtiar menyelesaikan polemik GKI Yasmin adalah bagian dari pelaksanaan platform dan nilai-nilai PAN sebagai partai terbuka.

“Apa yang saya lakukan ini adalah salah satu bentuk manifestasi dari platform PAN. PAN adalah partai yang terbuka, inklusif, dan partai yang selalu ada di tengah yang menjamin keseimbangan di republik ini. Ketika dulu saya bergabung di PAN, saya kagum terhadap platform masa depan yang ada di PAN,” kata Bima Arya dalam IG Live Ruang Muda PAN bertajuk “Polemik GKI Yasmin dan Ikhtiar Merawat Keberagaman” Rabu (1/9/2021). Acara ini dipandu Jubir Muda PAN Aliah Sayuti.

Bima Arya Sugiarto yang juga Ketua DPP PAN ini menyampaikan bahwa keberagaman merupakan DNA bangsa Indonesia yang tidak bisa dihapuskan. Selain itu pemerintah berkewajiban menjamin hak warganya dalam beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.

“Masalah ini sebenarnya tidak hanya ada di GKI Yasmin saja, tetapi ada di tempat-tempat lain yang masih berdinamika terkait pendirian gereja dan masjid yang masih harus diselesaikan karena masih ada perbedaan pendapat di tengah masyarakat. Tentu hal ini tidak mudah, tapi disitulah tugas pemimpin,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Bima Arya berbagi cerita terkait kronologis polemik GKI Yasmin dan penyelesaian yang ditempuh oleh pemerintah Kota Bogor selama kepengurusan Bima Arya di Kota Bogor.

“Sempat ada LSM yang mengatakan bahwa Bogor adalah kota yang paling intoleran, namun faktanya Bogor merupakan Kota yang sudah sejak dulu hidup berdampingan antar umat beragama,” jelasnya.

“Dengan upaya penyelesaian polemik GKI Yasmin yang dilakukan di Kota Bogor, menandakan bahwa pemerintah Kota Bogor sedang berikhtiar dalam merawat keberagaman yang ada di Indonesia,” tutupnya.